5 Film Indonesia yang Tayang di Festival Locarno 2020

5 Film Indonesia yang Tayang di Festival Locarno 2020

5 Film Indonesia yang Tayang di Festival Locarno 2020

5 Film Indonesia yang Tayang di Festival Locarno 2020 – Salah satu industri hiburan yang terdampak dengan Pandemi COVID-19 yakni penyelenggaraan festival film di seluruh dunia. Festival Film Locarno juga turut terdampak. Namun kendala ini tak membuat Festival Film Locarno dihilangkan.

Selama tanggal 5-15 Agustus 2020, festival ini meluncurkan film yang bisa dinikmati secara online di situs mereka.

Dilansir https://midi-property.info Film yang ditampilkan dalam program Open Doors Screenings ini berasal dari berbagai negara, salah satunya Indonesia. Buat anda yang ingin hiburan bermanfaat secara gratis, berikut 5 film Indonesia yang tayang di Festival Film Locarno.

1. Tak Ada yang Gila di Kota ini  

Film hasil karya sutradara Wregas Bhanuteja ini bercerita tentang Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang dikucilkan. Ketika musim liburan tiba, seorang bos hotel menyuruh pegawainya, Marwan, untuk menangkap ODGJ di kota mereka agar tidak mengganggu wisatawan.

Film berdurasi 20 menit ini telah ditayangkan di berbagai festival. Salah satu penghargaan yang diperoleh oleh film ini yakni sebagai Film Pendek Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2019.

2. What They Don’t Talk About When They Talk About Love  

Diperankan Karina Salim, Ayushita, dan Nicholas Saputra, film ini disutradarai oleh Mouly Surya. Dalam durasi 1 jam 45 menit, kamu akan disuguhkan kisah seorang tunanetra bernama Fitri yang jatuh cinta kepada dokter hantu. Fitri sering menulis surat untuk sang dokter. Lalu suatu waktu sang dokter hantu membalas surat Fitri. Dokter ini merupakan seorang pria tuli bernama Edo.

Di sisi lain, seorang perempuan bernama Diana yang memiliki miopia jatuh cinta dengan Andhika yang tidak bisa melihat. Tapi perasaan Andhika masih menjadi misteri karena di masa lalu, Andhika sangat mencintai mantan pacarnya. Mengusung tema romansa, film ini menyajikan kisah cinta unik di lingkungan Sekolah Luar Biasa (SLB).

3. Kucumbu Tubuh Indahku  

Film ini bercerita tentang perjalanan hidup seseorang bernama Juno. Karakter Juno disini diceritakan sejak ia masih kecil, remaja, hingga tumbuh dewasa. Juno memiliki ketertarikan dengan kesenian tari Lengger. Dia bergabung dengan grup kesenian itu, namun suatu hal membuat Juno terpaksa hidup berpindah-pindah dari desa ke desa hingga dewasa.

Pada tahun 2018, film ini tayang pertama kali di Indonesia di Jogja-NETPAC Asian Film Festival dan baru tayang di bioskop pada tahun 2019. Salah satu penghargaan yang diperoleh film ini yakni sutradara Garin Nugroho yang memenangkan kategori Sutradara Terbaik pada Festival Film Indonesia 2019.

4. Kado 

Film ini disutradarai oleh Aditya Ahmad dengan durasi 15 menit. Diperankan oleh Isfira Febiana, Kado bercerita tentang seorang remaja bernama Isfi yang ingin menyiapkan kado untuk Nita, temannya. Kado tersebut ingin dibuat dengan istimewa di kamar Nita. Namun Isfi merupakan seorang perempuan maskulin yang tak benar-benar mengidentifikasi identitas dirinya sendiri.

Ketika di sekolah dan berkumpul dengan teman laki-lakinya, Isfi bersikap sebagai sosok yang gagah. Dia juga mengenakan seragam untuk siswa laki-laki. Tetapi demi bisa menyiapkan kado untuk Nita di kamarnya, Isfi harus menjadi perempuan dengan mengenakan hijab dan rok panjang. Film pendek yang diproduseri oleh Mira Lesmana dan Riri Riza ini telah mendapatkan penghargaan sebagai Best Short Film di Venice Film Festival 2018.

5. Atambua 39 derajat Celsius 

Setelah referendum 1999, Ronaldo dan anaknya, Joao memutuskan pindah ke Atambua, sedangkan istrinya dan adik Joao menetap di Timor Leste. Memulai hidupnya di Atambua, Ronaldo bekerja sebagai supir bus. Sementara Joao bekerja sebagai tukang ojek.

Seorang gadis bernama Nikia kembali ke Atambua. Dia bertemu dengan Joao. Joao menaruh hati pada Nikia dan menyatakan perasaannya, namun Nikia meninggalkan Atambua. Film berdurasi 1 jam 30 menit ini diproduksi oleh Miles Films dan disutradarai Riri Riza.